Sejarah dan Asal Muasal Propinsi Jambi




Kali ini saya ingin mengajak Anda sekalian untuk menelaah lebih jauh tentang Propinsi Jambi. Sebuah wilayah yang sejak dulu telah menjadi pusat Melayu di pulau Sumatra. Tujuannya tiada lain hanya untuk kembali membangkitkan nilai nasionalisme dan kepercayaan diri bangsa ini, dengan mengenang dan mengambil nilai-nilai luhur yang pernah mereka wariskan.

1.Pendahuluan
Di Swarnadwipa (pulau emas) atau Pulau Sumatera, Provinsi Jambi merupakan bekas wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901 M). Kesultanan ini memang tidak berhubungan secara langsung dengan dua kerajaan Hindu-Buddha pra-Islam. Sekitar abad ke 6 – awal 7 M, berdiri Kerajaan Melayu (Melayu Tua) yang terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Catatan Dinasti Tang mengatakan bahwa awal abad ke 7 M dan lagi pada abad ke 9 M, Jambi mengirim duta/utusan ke Empayar China (Wang Gungwu 1958; 74). Kerajaan ini bersaing dengan Sri Wijaya untuk menjadi pusat perdagangan.
Letak Malayu yang lebih dekat ke jalur pelayaran Selat Melaka menjadikan Sri Wijaya merasa terdesak sehingga perlu menyerang Malayu yang akhirnya tunduk kepada Sri Wijaya. Muaro Jambi, sebuah kompleks percandian di hilir Jambi mungkin dulu bekas pusat belajar agama Buddha sebagaimana catatan dari pendeta China I-Tsing yang berlayar dari India pada tahun 671 M. Ia belajar di Sri Wijaya selama 4 tahun dan kembali pada tahun 689 Masehi bersama empat pendeta lain untuk menulis dua buku tentang ziarah Buddha. Saat itulah ia menuulis bahwa Kerajaan Malayu kini telah menjadi bagian dari Sri Wijaya.
Setelah Sri Wijaya mulai pudar di abad ke 11 Masehi, ibu negeri dipindahkan ke Jambi (Wolters 1970: 2). Inilah Kerajaan Melayu (Melayu Muda) atau Dhamasraya yang berdiri di Muara Jambi. Sebagai sebuah bandar yang besar, Jambi juga menghasilkan berbagai rempah-rempahan dan kayu-kayuan. Sebaliknya dari pedagang Arab, mereka membeli kapas, kain dan pedang. Dari Cina, sutera dan benang emas, sebagai bahan baku kain tenun songket (Hirt & Rockhill 1964; 60-2). Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singosari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singosari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung (pedalaman Minang atau Suruaso) dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347 M. Kemudian di abad ke 15, Islam mulai menyebar di Nusantara.

2.Kesultanan Jambi

“Tanah Pilih Pesako Betuah”. Seloka ini tertulis di lambang Kota Jambi. Dimana menurut orang tua-tua pemangku adat Melayu Jambi, kononnya Tuanku Ahmad Salim dari Gujarat (India) berlabuh di selat Berhala, Jambi dan mengislamkan orang-orang Melayu disana. Beliau bernama lengkap Syeikh Ahmad Salim bin Syeikh Sultan Al-Ariffin Sayyid Ismail. Beliau masih keturunan dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Di tempat baru ini, ia membangun pemerintahan baru dengan dasar Islam, bergelar Datuk Paduko Berhalo dan menikahi seorang putri dari Minangkabau bernama Putri Selaras Pinang Masak. Mereka dikurniakan empat orang anak, kesemuanya menjadi datuk wilayah sekitar kuala tersebut. Adapun putra bungsu yang bergelar Orang Kayo Hitam berniat untuk meluaskan wilayah hingga ke pedalaman, jika ada tuah, membangun sebuah kerajaan baru. Maka ia lalu menikahi anak dari Temenggung Merah Mato bernama Putri Mayang Mangurai. Oleh Temenggung Merah Mato, anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako. Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan agar menghiliri aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru itu dan bahwa tempat yang akan dipilih sebagai tapak kerajaan baru nanti haruslah tempat dimana sepasang angsa bawaan tadi mau naik ke tebing dan mupur (berdiam) di tempat tersebut selama dua hari dua malam.
Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua angsa naik ke darat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya, maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut “Tanah Pilih”, dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.

3.Asal Nama “Jambi”

‘Jambi’ berasal dari kata ‘Jambe’ dalam bahasa Jawa yang berarti ‘Pinang’. Kemungkinan besar saat Tanah Pilih dijadikan tapak pembangunan kerajaan yang baru, pepohonan pinang banyak tumbuh disepanjang aliran sungai Batanghari, sehingga nama itu yang dipilih oleh Orang Kayo Hitam.

4.Keris Siginjai

Hubungan Orang Kayo Hitam dengan Tanah Jawa digambarkan dalam cerita orang tuo-tuo yang mengatakan bahwa Orang Kayo Hitam pergi ke Majapahit untuk mengambil Keris bertuah, dan kelak akan menjadikannya sebagai keris pusaka Kesultanan Jambi. Keris itu dinamakan ‘Keris Siginjai’. Keris Siginjai terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi dan nikel. Keris Siginjai menjadi pusaka yang dimiliki secara turun temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama 400 tahun, keris Siginjai tidak hanya sekedar lambang mahkota kesultanan Jambi, tapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi.

 
Gambar 1. Foto: Keris Siginjai

Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20. Selain keris Siginjai, ada sebuah keris lagi yang dijadikan mahkota kerajaan yaitu keris Singa Marjaya yang dipakai oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota). Pada tahun 1903M Pangeran Ratu Martaningrat keturunan Sultan Thaha yang terakhir menyerahkan keris Singa Marjaya kepada Residen Palembang sebagai tanda penyerahan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyimpan Keris Siginjai dan Singa Marjaya di Museum Nasional (Gedung Gajah) di Batavia (Jakarta).

5.Slogan Jambi: “Sepucuk Jambi, Sembilan Lurah”

 
Gambar 2. Foto: Logo Propinsi Jambi

Seloka ini tertulis di lambang Propinsi Jambi, menggambarkan luasnya wilayah Kesultanan Melayu Jambi yang merangkumi sembilan lurah dikala pemerintahan Orang Kayo Hitam, yaitu : VIII-IX Koto, Petajin, Muaro Sebo, Jebus, Aer Itam, Awin, Penegan, Miji dan Binikawan. Ada juga yang berpendapat bahwa wilayah Kesultanan Jambi dahulu meliputi 9 buah lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama : 1. Batang Asai 2. Batang Merangin 3. Batang Masurai 4. Batang Tabir 5. Batang Senamat 6. Batang Jujuhan 7. Batang Bungo 8. Batang Tebo dan 9. Batang Tembesi. Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu merupakan wilayah Kesultanan Melayu Jambi.

6.Senarai (silsilah) Sultan Jambi (1790-1904)

1). 1790 – 1812 Mas’ud Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga
2). 1812 – 1833 Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Agung Seri Ingalaga
3). 1833 – 1841 Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat
4). 1841 – 1855 Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud
5). 1855 – 1858 Thaha Safiuddin bin Muhammad (1st time)
6). 1858 – 1881 Ahmad Nazaruddin bin Mahmud
7). 1881 – 1885 Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman
8). 1885 – 1899 Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad
9). 1900 – 1904 Thaha Safiuddin bin Muhammad (2nd time)
10). 1904 Dihancurkan Belanda

7.Provinsi Jambi

Wilayah propinsi Jambi hari ini pun terbagi atas 1 Bandar Ibukota (Jambi) dan 9 daerah – mungkin agar sesuai seloka adat tadi-. Tetapi nama daerahnya telah bertukar, Yaitu :
1). Muara Jambi – beribunegeri di Sengeti
2). Bungo – beribunegeri di Muaro Bungo
3). Tebo – beribunegeri di Muaro Tebo
4). Sarolangun – beribunegeri di Sarolangun Kota
5). Merangin/Bangko – beribunegeri di Kota Bangko
6). Batanghari – beribunegeri di Muara Bulian
7). Tanjung Jabung Barat – beribunegeri di Kuala Tungkal
8). Tanjung Jabung Timur – beribunegeri di Muara Sabak
9). Kerinci – beribunegeri di Sungai Penuh
Pada akhir abad ke 19, di daerah Jambi terdapat kerajaan atau Kesultanan Jambi. Pemerintahan kerajaan ini dipimpin oleh seorang Sultan dibantu oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota) yang mengepalai Rapat Dua Belas yang merupakan Badan Pemerintahan Kerajaan.
Wilayah administrasi Kerajaan Jambi meliputi daerah-daerah sebagaimana tertuang dalam adagium adat “Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo” yang artinya: Pucuk yaitu ulu dataran tinggi, sembilan lurah yaitu sembilan negeri atau wilayah dan batangnya Alam Rajo yaitu daerah teras kerajaan yang terdiri dari dua belas suku atau daerah.
Secara geografis keseluruhan daerah Kerajaan Jambi dapat dibagi atas dua bagian besar yakni:
* Daerah Huluan Jambi: meliputi Daerah Aliran Sungai tungkal Ulu, Daerah Aliran Sungai jujuhan, Daerah Aliran Sungai Batang Tebo, Daerah Sungai Aliran Tabir, daerah Aliran Sungai Merangin dan Pangkalan Jambu.
* Daerah Hilir Jambi : meliputi wilayah yang dibatasi oleh Tungkal Ilir, sampai Rantau Benar ke Danau Ambat yaitu pertemuan Sungai Batang Hari dengan Batang Tembesi sampai perbatasan dengan daerah Palembang.
* Sebelum diberlakukannya IGOB (Inlandsche Gemente Ordonantie Buitengewesten), yaitu peraturan pemerintahan desa di luar Jawa dan Madura, di Jambi sudah dikenal pemerintahan setingkat desa dengan nama marga atau batin yang diatur menurut Ordonansi Desa 1906. Pada ordonansi itu ditetapkan marga dan batin diberi hak otonomi yang meliputi bidang pemerintahan umum, pengadilan, kepolisian, dan sumber keuangan.
* Pemerintahan marga dipimpin oleh Pasirah Kepala Marga yang dibantu oleh dua orang juru tulis dan empat orang kepala pesuruh marga. Kepala Pesuruh Marga juga memimpin pengadilan marga yang dibantu oleh hakim agama dan sebagai penuntut umum adalah mantri marga. Di bawah pemerintahan marga terdapat dusun atau kampung yang dikepalai oleh penghulu atau kepala dusun atau Kepala Kampung.
* Pada masa pemerintahan Belanda tidak terdapat perubahan struktur pemerintahan di daerah Jambi. Daerah ini merupakan salah satu karesidenan dari 10 karesidenan yang dibentuk Belanda di Sumatera yaitu: Karesidenan Aceh, Karesidenan Tapanuli, Karesidenan Sumatera Timur, Karesidenan Riau, Karesidenan Jambi, Karesidenan Sumatera Barat, Karesidenan Palembang, Karesidenan Bengkulu, Karesidenan Lampung, dan Karesidenan Bangka Belitung.
* Khusus Karesidenan Jambi yang beribu kota di Jambi dalam pemerintahannya dipimpin oleh seorang Residen yang dibantu oleh dua orang asisten residen dengan mengkoordinasikan beberapa Onderafdeeling. Keadaan ini berlangsung sampai masuknya bala tentera Jepang ke Jambi pada tahun 1942.
* Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain Melayu Jambi, Batin, Kerinci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan penduduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai Batanghari.
* Suku Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain. Mereka diperkirakan merupakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud memperluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang menyatakan bahwa suku ini merupakan keturunan dari percampuran suku Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut sebagai suku Weddoid.
 
Gambar 3. Foto: Suku Anak Dalam (Suku Kubu)

* Orang Anak Dalam dibedakan atas suku yang jinak dan liar. Sebutan “jinak” diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tempat tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata cara pertanian. Sedangkan yang disebut “liar” adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan-hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.
* Suku-suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pedesaan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarangannya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup masyarakat desa.
* Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah-istilah atau gelar-gelar tertentu untuk menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal sebutan-sebutan yang “kabur” untuk menunjukkan status seseorang, seperti orang pintar, orang kaya, orang kampung, dsb.
* Pakaian. Pada awalnya masyarakat pedesaan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang menggelembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi dengan kopiah.
* Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang. Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Turun Mandi, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, Ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian.

8.Filsafat Hidup Masyarakat Setempat:

1). Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.
2). Lambang Daerah Tingkat I Provinsi Jambi, berbentuk Bidang Dasar Segi Lima, menggambarkan lambang Jiwa dan semangat Pancasila.
3). Masjid, melambangkan Ketuhanan dan Keagamaan;
4) Keris, melambangkan kepahlawanan dan Kejuangan;
5). Gong, melambangkan jiwa musyawarah dan Demokrasi.

 
Gambar 4. Foto: Logo Propinsi Jambi

Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Jambi ditetapkan sebagai Keresidenan dan masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen Jambi yang pertama O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No. 20 tanggal 4 Mei 1906 dan pelantikannya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1906.
Kekuasan Belanda atas Jambi berlangsung ± 36 tahun karena pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan kepada Pemerintahan Jepang. Dan pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah Negara Republik Indonesia. Sumatera disaat Proklamasi tersebut menjadi satu Provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya dan MR. Teuku Muhammad Hasan ditunjuk memegangkan jabatan Gubernurnya. Pada tanggal 18 April 1946 Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukittinggi memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.
****
Demikianlah yang dapat disampaikan dalam tulisan singkat ini. Semoga tetap memberikan banyak manfaat bagi kita semua. Dengannya, semoga akan menjadi motivasi bagi setiap diri generasi muda untuk jauh lebih maju dari kejayaan mereka di masa lalu, dan kesadaran yang tinggi akan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh mereka.
Sedangkan harapan kedepannya adalah, bahwa setiap generasi muda Indonesia – khususnya orang-orang Melayu dan Jambi -  semakin sadar dan tidak pernah melupakan sejarah tentang jati diri mereka. Sehingga menjadi kian membuka cakrawala berpikir dan terpacu untuk terus mengejar ketinggalan serta berusaha mengukir prestasi terbaik di seantero dunia.
Yogyakarta, 15 Januari 2013

[Referensi: Adi Suhara, pukul: 19.18, Rabu, 04 Maret 2009]
Sumber : http://oediku.wordpress.com/2010/11/25/sejarah-dan-asal-muasal-propinsi-jambi/

PERENCANAAN KESEHATAN



Perencanaan merupakan inti kegiatan managemen, karena semua kegiatan managemen di atur dan di arahkan oleh perencanaan tersebut.
Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisisan dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik. Dari batasan ini dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan antara lain :
a.       Perencanaan harus didasarkan kepada analisis dan pemahaman sistem dengan baik.
b.      Perencanaan pada hakikatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasi.
c.       Perencanaan secara implisit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih baik.
Perencanaan atau rencana itu sendiri banyak macamnya, antara lain :
a.       Dilihat dari jangka waktu berlakunya rencana
1)      Rencana jangka panjang (Long term planning ), yang berlaku antara 10-25 tahun.
2)      Rencana jangka menengah (Medium range planning ), yang berlaku antara 5-7 tahun.
3)      Rencana jangka pendek ( Short range planning ), umumnya berlaku hanya untuk 1 tahun.
b.      Dilihat dari tingkatannya
1)      Rencana induk (masterplan )
2)      Rencana operasional (operational planning )
3)      Rencana harian (day to day planning )
c.       Ditinjau dari ruang lingkupnya
1)      Rencana strategis ( strategi planning )
2)      Rencana taktis (tactical planning )
3)      Rencana menyeluruh ( comprehensive )
4)      Rencana terintegrasi ( integrated planning )
1.       Proses Perencanaan
Perencanaan dalam suatu organisasi adalah suatu proses, dimulai dari identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, perencanaan pemecahaan masalah, implementasi (pelaksanaan pemecahan masalah) dan evaluasi. Sehingga dapat digambarkan seperti dibawah ini.



Di bidang kesehatan khususnya, proses perencanaan ini pada umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving), secara terinci langkah-langkah perencanaan kesehatan adalah sbb:
a)      Identifikasi Masalah
Perencanaan adalah suatu bentuk rancangan masalah. Sumber masalah kesehatan masyarakat dapat diperoleh dari berbagai cara antara lain.
a.       Laporan kegiatan dari program kesehatan yang ada.
b.      Survailance epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit.
c.       Survei kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan perencanaan kesehatan.
d.      Hasil kunjungan lapangan supervisi dan sebagainya.
b)      Menetapkan prioritas Masalah
Untuk itu harus dipilih masalah yang ‘Feasible’ untuk dipecahkan. Proses memilih masalah disebut memilih atau menetapkan prioritas masalah. Pemilihan prioritas dapat dilakukan melalui 2 cara, yakni :
a.       Melalui teknik scoring, yakni dengan menggunakan ukuran (parameter) antara lain :
-          Preavalensi penyakit ( Prevalence) atau besarnya masalah
-          Berat ringannya akibat yang ditimbulkan oleh masalah tersebut (Severity).
-          Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut (degree of ummet need)
-          Keuntungan sosial yang diperoleh bila masalah tersebut diatasi ( social benefit)
-          Teknologi yang tersedia dalam mengatasi masalah (technical feasibility)
-          Sumber daya yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah (resources availability)
Masalah yang memperoleh nilai tertinggi (terbesar) adalah yang diprioritaskan.
b.      Melalui teknik non-scoring
Dengan menggunakan teknik ini masalah dinilai melalui diskusi kelompok, disebut “ Nominal group technique” (NGT). Ada 2 NGT, yakni:
-          Delphi technique : yaitu masalah-masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang sama.
-          Delbeq technique : menetapkan prioritas masalah menggunakan teknik ini.
c)       Menetapkan Tujuan
Pada dasarnya adalah membuat ketetapan-ketetapan tertentu yang ingin dicapai oleh perencanaan tersebut. Penetapan tujuan yang baik apabila dirumuskan secara konkret dan dapat diukur. Pada umumnya dibagi dalam tujuan umum dan tujuan khusus.
a.       Tujuan umum
Bersifat umum dan masih dapat dijabarkan ke dalam tujuan-tujuan khusus, dan pada umumnya masih abstrak.
Contoh :
·         Meningkatkan status gizi anak balita di kecamatan Cibadak
b.      Tujuan khusus
Tujuan khusus merupakan jembatan untuk tujuan umum, artinya tujuan-tujuan khususnya tercapai.
Contoh : apabila tujuan umum seperti diatas dijabarkan kedalam tujuan khusus menjadi sbb:
-          Meningkatkan perilaku ibu dalam memberikan makanan bergizi kepada anak balita.
-          Meningkatkan jumlah anak balita yang ditimbang di Posyandu.
-          Meningkatnya jumlah anak yang berat badannya naik dan sebagainya.
d)      Menetapkan Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan adalah uraian tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Kegiatan mencakup 3 tahap pokok, yakni :
-          Kegiatan pada tahap persiapan
-          Kegiatan pada tahap pelaksanaannya
-          Kegiatan pada tahap penilaian
e)      Menetapkan Sasaran (Target Group)
Sasaran adala kelompok masyarakat tertentu yang akan digarap oleh program yang direncanakan tersebut. Sasaran program kesehatan biasanya dibagi dua, yakni :
a.       Sasaran langsung, yaitu kelompok yang langsung dikenal oleh program.
b.      Sasaran tidak langsung, adalah kelompok yang menjadi sasaran antara program tersebut, namun berpengaruh sekali terhadap sasaran langsung.
f)       Waktu
Waktu yang ditetapkan sangat tergantung dengan jenis perencanaan yang dibuat serta kegiatan-kegiatan yang ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan.
Contoh Sederhana :
Program Pemberantasan Sarang Nyamuk Kabupaten Indragiri 1995
Kegiatan
Bulan
1   2    3   4   5   6   7   8   9   10   11   12
1.       Persiapan
Pertemuan antarprogram
Pertemuan antarsektor
Penyusunan Juklak
2.       Pelaksanaan
Pelatihan petugas Puskes
Pelatihan kader Kesehatan oleh masing-masing Puskes
Penyuluhan PSN oleh kader dimasing-masing desa
3.       Evaluasi
Penyusunan instrument
Pelaksanaan evaluasi

x
x
    xxxx

          xxxxx
                 
                  xxxxxxxxxxxxx

                      xxxxxxxxxxxxxxxx

                                       xxx
                                      xxxxxxxxx


g)      Organisasi dan Staf
Dalam bagian ini di gambarkan atau diuraikan organisasi dan sekaligus staf atau personel yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau program tersebut.
h)      Rencana Anggaran
Uraian tentang biaya-biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, mulai dari persiapan sampai Evaluasi.
i)        Rencana Evaluasi
Suatu uraian tentang kegiatan yang akan dilakukan untuk menilai sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tersebut telah tercapai.
C.  Pengoranisasian
Pengorganisasian adalah mengatur personel atau staf yang ada dalam institusi tersebut agar semua kegiatan yang telah ditetapkan dalam rencana dapat berjalan dengan baik, yang akhirnya semua tujuan dapat tercapai.
Pengorganisasian mencakup beberapa unsur pokok, antara lain :
a.       Hal yang di organisasikan ada 2 macam, yakni :
1.       Pengorganisasian kegiatan
2.       Pengorganisasian tenaga pelaksana
b.      Proses pengorganisasian
c.       Hasil pengorganisasian  
Disimpulkan bahwa pengorganisasian adalah suatu proses yang menghasilkan (Struktur Organisasi). Struktur Organisasi adalah Visualisasi kegiatan dan pelaksana kegiatan (personel) dalam suatu institusi.

1.       Organisasi Lini ( line Organization)
Bentuk organisasi ini khususnya di dalam institusi-institusi yang kecil sangat efektif, karena keputusan-keputusan cepat di ambil dan pelaksanaan keputusan juga cepat.
2.       Organisasi Staf (staf Organization)
Dalam organisasi ini tidak begitu tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf pelaksana. Peran staf bukan sekedar pelaksana perintah pimpinan, namun staf berperan sebagai pembantu pimpinan.
3.       Organisasi Lini dan Staf
Organisasi ini merupakan gabungan kedua jenis organisasi yang terdahulu disebutkan (Lini dan Staf). Dalam organisasi ini staf bukan hanya sekedar pelaksana tugas, tetapi juga diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Struktur Organisasi itu biasanya sudah ada terlebih dahulu dan ini relatife cenderung permanen, lebih-lebih struktur organisasi departemen.
Apabila ‘rencana’ atau kegiatan tersebut tidak dapat ditangani oleh struktur organisasi yang telah ada biasanya dibentuk, misalnya : panitia tim kerja (kelompok kerja ), komisi dan sebagainya.
                D. Pengawasan dan Pengarahan
                                Tujuan pokok dan fungsi pengawasan dan pengarahan adalah agar kegiatan-kegiatan  dan orang-orang yang melakukan kegiatan yang telah direncanakan tersebut dapat berjalan dengan baik, dan tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang kemungkinan tidak akan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Pengawasan dan pengarahan adalah suatu proses untuk mengukur penampilan kegiatan atau pelaksanaan kegiatan suatu program yang selanjutnya memberikan pengarahan-pengarahan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Agar pengawasan dapat berjalan dengan baik sekurang-kurangnya 3 hal yang diperhatikan, yakni :
1.       Objek Pengawasan
Secara garis besar objek pengawasan dapat dikelompokkan menjadi 4, yakni :
-          Kuantitas dan kualitas Program
-          Biaya program, dengan menggunakan 3 standar
-          Pelaksanaan (Implementasi) program
-          Hal-hal yang bersifat khusus
2.       Metode pengawasan
Tujuan pokok pengawasan bukanlah mencari kesalahan, namun yang lebih utama adalah mencari umpan balik ( feedback) yang selanjutnya memberikan pengarahan dan perbaikan-perbaikan apabila kegiatan tidak berjalan dengan semestinya. Pengawasan dapat dilakukan dengan berbagai macam, antara lain :
-          Melalui kunjungan langsung atau observasi terhadap objek yang di awasi.
-          Melalui analisis terhadap laporan-laporan yang masuk
-          Melalui pengumpulan data atau informasi yang khusus ditujukan terhadap objek-objek pengawasan
-          Melalui tugas dan tanggung jawab para petugas khususnya para pimpinan.
3.       Proses pengawasan
Pengawasan adalah suatu proses, yang berarti suatu pengawasan itu terdiri dari berbagai langkah, yakni :
-          Menyusun rencana pengawasan
-          Pelaksanaan pengawasan
-          Menginterpretasi dan menganalisis hasil-hasil pengawasan
-          Menarik kesimpulan dan tindak lanjut.
Pengarahan pada hakikatnya adalah keputusan-keputusan pimpinan yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. Dengan pengarahan (Directing) diharapkan:
1.       Adanya kesatuan perintah (unity of command)
2.       Adanya hubungan langsung antara pimpinan dengan bawahan.
3.       Adanya umpan balik yang langsung
Bagi para pelaksana atau karyawan bukan pimpinan pengawasan akan bermanfaat juga, antara lain :
1.       Para karyawan memperoleh informasi yang jelas tentang apa yang harus dikerjakan.
2.       Para karyawan yang tidakk langsung berada dalam suatu proses belajar
3.       Para karyawan lebih merasa diperhatikan atau dihargai oleh pimpinan.
E. Sistem Pelayanan Kesehatan Masyarakat
                Pelayanan kesehatan sebagai suatu sistem terdiri dari sub sistem pelayanan medik, pelayanan keperawatan, pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan sebagainya, dan masing-masing sub sistem terdiri sub-sub sistem lagi.
a.       Masukan (input )
Sub elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya sistem.
b.      Proses
Suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehingga menghasilkan sesuatu (keluaran ) yang direncanakan.
c.       Keluaran (output)
Hal yang dihasilkan oleh proses
d.      Dampak (impact)
Akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya.
e.      Umpan balik (feedback)
Hasil dari proses yang sekaligus sebagai masukan untuk sistem tersebut
f.        Lingkungan (enviroment)
Dunia diluar sistem yang mempengaruhi sistem tersebut.
Unsur- unsur tersebut dapat dilestarikan sbb :



Secara umum pelayanan kesehatan masyarakat merupakan sub sistem pelayanan kesehatan, yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif ( peningkatan kesehatan ) dengan sasaran masyarakat. Oleh karena ruang lingkup pelayanan kesehatan masyarakat menyangkut kepentingan rakyat banyak, maka peran pemerintah dalam kesehatan masyarakat mempunyai porsi yang besar.
Departemen kesehatan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam menggali dan membina potensi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat. Menggalang potensi masyarakat mencakup 3 dimensi, yakni :
a.       Potensi masyarakat dalam arti komunitas
b.      Menggalang potensi masyarakat melalui organisasi-organisasi masyarakat
c.       Menggalang potensi masyarakat melalui perusahaan-perusahaan swasta yang ikut membantu beban penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat.
Pelayanan kesehatan masyarakat, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta perlu memperhatikan beberapa ketentuan, antara lain :
1.       Penaggung jawab
Sistem pelayanan kesehatan masyarakat harus ada penaggung jawab baik oleh pemerintah maupun swasta.
2.       Standar pelayanan
Sistem pelayanan kesehatan masyarakat harus berdasarkan pada suatu standar tertentu.
3.       Hubungan kerja
Pelayanan kesehatan masyarakat harus mempunyai pembagian kerja yang jelas antara bagian satu dengan yang lain.
4.       Pengorganisasian Potensi Masyarakat
Ciri khas dari sistem pelayanan kesehatan masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat atau pengorganisasian masyarakat.
F. Sistem Rujukan
Kesehatan atau sehat-sakit adalah suatu yang kontinum dimulai dari sehat walafiat sampai dengan sakit parah. Untuk penyakit ringan tidak memerlukan pelayanan canggih, namun sebaliknya, untuk penyakit yang sudah parah tidak cukup hanya dengan pelayanan yang sederhana, melainkan memerlukan pelayanan yang sangat spesifik. Oleh sebab itu, perlu dibedakan adanya 3 bentuk pelayanan, yakni :
a.       Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care)
Pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka.
b.      Pelayanan kesehatan tingkat kedua ( secondary health services )
Pelayanan kesehatan untuk kelompok masyarkat yang memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer.
c.       Pelayanan kesehatan tingkat ketiga ( tertiary health services)
Pelayana kesehatan untuk masyarakat atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder.
Penyerahan tanggung jawab dari satu pelayanan kesehatan ke pelayanan kesehatan yang disebut ‘Rujukan’. Sistem rujukan ialah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertical (dari unit yang lebih mampu menangani ), atau secara horizontal (antara unit-unit yang setingkat kemampuannya).
Disamping itu, Rujukan tidak berarti berasal dari fasilitas yang lebih rendah ke fasilitas-fasilitas kesehatan yang setingkat. Secara garis besar rujukan dibedakan menjadi dua, yakni :
a.       Rujukan medik
Rujukan dengan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan pasien.
b.      Rujukan kesehatan masyarakat

Rujukan yang berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan.
G. Monitoring dan Evaluasi Program Kesehatan
Monitoring adalah kegiatan untuk memantau proses atau jalannya suatu program atau kegiatan, sedangkan evaluasi adalah kegiatan untuk menilai hasil suatu program atau kegiatan.
Evaluasi adalah membandingkan antara hasil yang telah dicapai oleh suatu program dengan tujuan yang direncanakan. Dalam kegiatan evaluasi mancakup langkah-langkah, yaitu :
a.       Menetapkan atau memformulasikan tujuan evaluasi
b.      Menetapkan kriteria yang akan digunakan
c.       Menetapkan cara atau metode evaluasi
d.      Melaksanakan evaluasi
e.      Menentukan program yang di evaluasi
f.        Menyusun rekomendasi atau saran-saran tindakan lebih lanjut terhadap program berikutnya berdasarkan hasil evaluasi.
Evaluasi suatu program kesehatan masyarakat dilakukan terhadap tiga hal, yakni:
1.       Evaluasi proses ditujukan terhadap pelaksanaan program.
2.       Evaluasi hasil program ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut berhasil.
3.       Evaluasi dampak program ditujukan untuk menilai sejauh mana program ini mempunyai dampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat.